Direktur Olahraga FC Augsburg Benjamin Weber saat ini sedang melakukan kunjungan ke Amerika Serikat dalam rangka perjalanan jejaring inspirasional atas undangan dari German Football League (DFL). Berdasarkan pengamatan tim redaksi, meski kunjungan ini bertepatan dengan momentum Piala Dunia, Weber menegaskan bahwa pihaknya tidak fokus memanfaatkan turnamen akbar tersebut untuk berburu pemain baru di bursa transfer.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →"Pasar pemain di turnamen seperti ini sangat jelas, dan ada banyak sekali klub yang mengantre untuk mendapatkan pemain terbaik di panggung tempat seluruh dunia bisa melihat mereka," ujar Benjamin Weber dalam wawancara eksklusif bersama Bulinews.com. Menurut pantauan redaksi, sang direktur lebih tertarik melihat aspek mentalitas dan gaya permainan dari berbagai negara untuk dipelajari.
Meskipun FC Augsburg tidak aktif merekrut pemain dari Piala Dunia, turnamen ini tetap memengaruhi rencana transfer klub. Weber menjelaskan bahwa turnamen besar selalu menyebabkan penundaan aktivitas transfer secara global. Pihaknya memprediksi pasar baru akan bergerak aktif setelah Piala Dunia usai, di mana pergerakan klub-klub besar nantinya akan memberikan efek domino bagi klub yang lebih kecil seperti FC Augsburg.
Ketika bursa transfer mulai bergerak, FC Augsburg akan memprioritaskan kualitas personal sebagai faktor krusial dalam rekrutmen. "Karakter selalu lebih penting bagi kami daripada bakat. Begitulah cara kami melakukan scouting dan membangun kelompok. Kami menginginkan karakter yang kuat di dalam dan di luar lapangan. Itu sangat penting bagi kami," kata pria berusia 43 tahun tersebut.
Weber menambahkan bahwa pada level tertinggi, seluruh pemain sepak bola profesional memiliki bakat yang luar biasa. Oleh karena itu, tantangan utamanya adalah bagaimana menyatukan bakat-bakat tersebut menjadi sebuah kesatuan tim yang solid, bukan hanya bergantung pada individu tertentu.
Pengalaman panjang Weber selama 13 tahun bekerja di bawah manajer tim nasional Inggris saat ini, Thomas Tuchel, sebagai analis video di Mainz, Borussia Dortmund, Paris Saint-Germain, dan Chelsea menjadi fondasi kuat filosofinya saat ini. Berdasarkan pengalamannya di berbagai ruang ganti lintas level kompetisi, kesuksesan sebuah tim selalu berakar pada ikatan emosional dan hubungan kemanusiaan yang kuat antar-pemain.
Dari pantauan redaksi, pendekatan Weber mengombinasikan analisis data modern dengan penilaian aspek humanis pemain. Dirinya meyakini sebuah tim hanya dapat dipimpin secara efektif dan meraih kesuksesan jangka panjang apabila dihuni oleh para pemain yang memiliki karakter baik serta saling peduli satu sama lain.