Sebuah operasi penangkapan pengedar narkotika jenis sabu di Desa Tumbang Kalemei, Kalimantan Tengah, berakhir tragis setelah petugas kepolisian mendapat serangan brutal dari massa. Peristiwa berdarah ini mengakibatkan seorang personel kepolisian meninggal dunia, sementara dua petugas lainnya hingga kini dilaporkan hilang. Menanggapi situasi darurat ini, Badan Reserse Kriminal atau Bareskrim Kepolisian Mabes Polri menegaskan akan turun tangan secara langsung untuk mengusut tuntas jaringan narkotika tersebut.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan keterangan dari Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Pol Eko Hadi Santoso, personel yang gugur adalah Aipda Yudhie Perdana Putra akibat luka parah dari serangan senjata tajam saat operasi berlangsung. Dari pantauan redaksi, dua petugas lain yang masih dinyatakan hilang setelah proses pencarian selama dua malam berturut-turut adalah Aiptu Sumaryanto dan Bripda Nopandri Ramadhana.
"Kami akan melakukan dukungan penuh terhadap jajaran di lapangan, baik dalam proses pencarian anggota yang belum ditemukan, pengamanan wilayah, maupun pengungkapan tuntas jaringan narkotika dan pelaku penyerangan terhadap anggota Polri," kata Eko dalam keterangan resminya.
Menurut Eko, tim gabungan saat ini masih terus dikerahkan di area sekitar lokasi kejadian untuk mencari keberadaan Sumaryanto dan Nopandri. Pada saat yang sama, tim penyidik juga tengah mendalami identitas serta keterlibatan para pelaku yang secara membabi buta menyerang petugas di Desa Tumbang Kalemei.
Pengamatan tim redaksi menunjukkan bahwa operasi ini awalnya dirancang untuk menangkap seorang residivis pengedar sabu berinisial BIO. Eko memaparkan bahwa operasi tersebut melibatkan 12 petugas kepolisian yang dibagi menjadi dua tim, di mana sebagian melakukan penyergapan di rumah target dan sebagian lagi bersiaga di sekitar lokasi sebagai unsur pendukung.
Namun, situasi berubah mencekam setelah target berhasil diamankan. Sejumlah orang dari dalam rumah BIO mendadak menyerang petugas menggunakan senjata tajam, yang kemudian memicu provokasi hingga warga sekitar ikut menyerang menggunakan senjata api rakitan. Untuk menyelamatkan diri dari amukan massa yang anarkis, beberapa petugas terpaksa menyeberangi sungai hingga akhirnya Yudhie ditemukan meninggal dunia dalam kekacauan tersebut.
"Kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga almarhum Aipda Yudhie Perdana Putra yang gugur saat menjalankan tugas memberantas peredaran narkotika," tutur Eko.
Sebagai langkah antisipasi, Bareskrim Polri berencana menambah personel di wilayah Kalimantan Tengah sekaligus mengevaluasi total setiap prosedur operasi pemberantasan narkotika. Eko menegaskan bahwa kesiapan personel di lapangan adalah kunci utama karena keselamatan anggota merupakan prioritas tertinggi tanpa mengurangi ketegasan hukum.
Berdasarkan laporan data dari Kantor PBB Urusan Obat-Obatan dan Kejahatan atau UNODC, tren peredaran sabu di Indonesia tetap menjadi ancaman serius dengan total sitaan mencapai 71,36 ton sepanjang periode 2018-2024. Meskipun volume sitaan pada tahun 2024 tercatat sebesar 7,65 ton atau menyusut 17,61% secara tahunan, insiden berdarah di Tumbang Kalemei ini menunjukkan bahwa konfrontasi jaringan narkoba di lapangan masih sangat tinggi dan berbahaya.