Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki babak yang lebih berbahaya setelah Teheran memperluas serangan ke negara-negara sekutu Washington di Timur Tengah. Berdasarkan laporan dari Al Jazeera, Iran melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) ke sejumlah wilayah yang menjadi lokasi pangkalan militer AS, termasuk Yordania, Bahrain, dan Kuwait.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Dari pantauan redaksi, serangan udara tersebut memicu sirene di negara-negara Teluk serta meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik kini telah berkembang menjadi perang kawasan yang lebih luas. Eskalasi ini terjadi ketika operasi militer AS terhadap Iran memasuki pekan kedua, menyusul gagalnya gencatan senjata sementara yang sebelumnya diumumkan oleh Presiden Donald Trump.
Menurut laporan CNN, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa dua anggota militernya tewas saat mempertahankan pangkalan Al-Azraq di Yordania dari gempuran rudal balistik dan drone Iran. Selain dua korban tewas, satu personel masih dinyatakan hilang, sementara empat anggota militer lainnya sempat dievakuasi ke rumah sakit akibat luka-luka.
Menanggapi insiden mematikan tersebut, Presiden Donald Trump menyampaikan rasa duka yang mendalam atas gugurnya para prajurit. "Kami sangat menyesalkan hal ini terjadi. Ini demi pengabdian kepada negara kami," ujar Trump saat diwawancarai oleh NewsNation.
Berdasarkan pengamatan tim redaksi, pertempuran kini juga semakin memanas di sekitar Selat Hormuz, yang merupakan jalur pelayaran vital bagi seperlima perdagangan minyak dunia. Para pakar menilai situasi ini menandakan pergeseran perang menjadi perebutan pengaruh strategis di kawasan Teluk yang berpotensi mengancam stabilitas keamanan dan pasokan energi global.