Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa Iran telah menghubungi Washington untuk membuka kembali peluang tercapainya kesepakatan damai. Klaim tersebut disampaikan hanya beberapa saat setelah militer Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan udara terbaru ke berbagai sasaran strategis di wilayah Iran.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berbicara kepada wartawan di atas pesawat kepresidenan Air Force One, Donald Trump mengatakan bahwa Teheran telah menghubungi pemerintah Amerika Serikat dan menyampaikan keinginan mendalam untuk berunding. Kendati demikian, ia mengaku masih meragukan iktikad baik dari negara Timur Tengah tersebut.
"Mereka menelepon beberapa saat yang lalu. Mereka ingin membuat kesepakatan," ujar Donald Trump pada Rabu, 8 Juli 2026. "Saya hanya tidak tahu apakah mereka layak untuk membuat kesepakatan itu. Saya tidak tahu apakah mereka akan menghormati kesepakatan itu. Itulah masalahnya," lanjut sang Presiden.
Berdasarkan pantauan redaksi, eskalasi ini dipicu oleh respons militer Amerika Serikat yang jauh lebih besar atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz. Donald Trump menegaskan bahwa setiap tindakan agresif dari Iran akan dibalas dengan kekuatan yang berlipat ganda.
"Setiap kali mereka menyerang kami, kami membalas dengan 20 serangan. Mereka melakukan sedikit sesuatu hari ini, tetapi itu sebenarnya pembalasan atas kejadian semalam. Ketika mereka menyerang, kami membalas dengan jauh lebih keras," kata Donald Trump.
Melalui akun Truth Social miliknya, Donald Trump kembali menegaskan bahwa operasi militer tersebut dilakukan sebagai balasan atas serangan terhadap kapal-kapal komersial. Ia juga memperingatkan bahwa situasi akan semakin memburuk apabila Iran kembali melancarkan aksi balasan, serta mengisyaratkan bahwa konflik saat ini dapat meningkat menjadi konfrontasi militer skala penuh.
Pernyataan Donald Trump muncul setelah Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM mengumumkan telah menyelesaikan gelombang kedua operasi militer terhadap Iran. Menurut laporan CENTCOM, sekitar 90 target militer Iran berhasil dihantam dalam serangan udara tersebut.
Dari pengamatan tim redaksi, sasaran serangan Amerika Serikat meliputi sistem pertahanan udara, fasilitas pengawasan pesisir, gudang penyimpanan rudal dan pesawat nirawak atau drone, kemampuan angkatan laut, hingga infrastruktur logistik militer di sepanjang pesisir selatan Iran. Sehari sebelumnya, militer Amerika Serikat juga mengklaim telah menyerang sekitar 80 target militer Iran, termasuk lebih dari 60 kapal milik Garda Revolusi Iran atau IRGC.
Di sisi lain, pihak Iran melaporkan sedikitnya 14 orang tewas akibat serangan tersebut. Sebagai bentuk perlawanan, Iran sempat membalas dengan menyerang pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di Kuwait serta Bahrain. Situasi di kawasan tersebut diprediksi tetap kritis menjelang prosesi pemakaman Ali Khamenei di Mashhad pada Kamis, 9 Juli 2026.