Implementasi kebijakan mandatori biodiesel B50 diperkirakan bakal mendongkrak penyerapan minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil/CPO di pasar domestik secara masif. Berdasarkan pengamatan tim redaksi, lonjakan kebutuhan bahan baku di dalam negeri ini berpotensi besar menekan volume ekspor nasional secara signifikan pada kuartal III (Q3) 2026 akibat ruang pasok internasional yang kian terbatas.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Melansir laporan Outlook Industri Sawit Indonesia Q3 2026 yang disusun oleh Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS), konsumsi domestik minyak sawit pada kuartal ini diproyeksikan menembus angka 7,2 juta ton. Jumlah tersebut memperlihatkan kenaikan sebesar 12,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar 6,3 juta ton, sekaligus menjadi rekor peningkatan konsumsi tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Dari pantauan redaksi, sektor biodiesel menjadi motor utama di balik lonjakan permintaan ini. Kebutuhan minyak sawit untuk pasokan bahan baku biodiesel diperkirakan melonjak tajam dari 3,46 juta ton pada Q3 2025 menjadi 4,25 juta ton pada Q3 2026. Dengan total serapan domestik yang mencapai 7,2 juta ton, penggunaan CPO untuk sektor biodiesel kini mendominasi hingga hampir 60% porsi konsumsi dalam negeri.
Berdasarkan analisis dari IPOSS, lonjakan konsumsi tersebut murni dipicu oleh regulasi baru program B50 yang mulai berlaku sejak 1 Juli 2026, bukan karena kenaikan permintaan di sektor pangan maupun industri oleokimia. "Implementasi B50 secara langsung meningkatkan kebutuhan CPO sebagai bahan baku biodiesel sehingga memperkuat peran pasar domestik sebagai penyerap produksi minyak sawit nasional," tulis IPOSS dalam laporan resminya.
Menurut lembaga riset tersebut, pengetatan alokasi ini berisiko mengganggu ketersediaan bahan baku bagi pasar ekspor serta industri hilir lainnya jika tidak diimbangi dengan pertumbuhan produksi. Sayangnya, produksi minyak sawit nasional justru diproyeksikan melandai ke angka 37,1 juta ton hingga akhir Q3 2026, lebih rendah dari realisasi tahun 2025 yang mampu mencapai 38,08 juta ton.
Menurut IPOSS, koreksi laju produksi pada Q3 2026 yang diperkirakan hanya menyentuh 11,1 juta ton ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal. Beberapa di antaranya meliputi bencana banjir di pulau Sumatra yang merendam area panen di Aceh dan Sumatera Utara, serta dampak cuaca kering dari fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang berlangsung sepanjang tahun 2026.
Dampak dari kombinasi penurunan produksi dan lonjakan konsumsi lokal ini membuat ruang ekspor produk sawit Indonesia menyempit drastis. IPOSS memprediksi total ekspor produk sawit nasional pada Q3 2026 menyusut hingga hampir separuh dari tahun lalu, yakni hanya berkisar di angka 4,3 juta ton dari yang sebelumnya mampu mencapai 8,3 juta ton.
Penurunan tajam juga terjadi pada komoditas ekspor mentah, di mana pengapalan CPO diproyeksikan merosot dari 1,2 juta ton menjadi hanya 0,5 juta ton. "Produksi Q3 yang terkoreksi dan konsumsi domestik yang meningkat akibat B50 membuat ruang ekspor menjadi semakin sempit," tegas IPOSS seraya menambahkan bahwa fenomena ini terjadi akibat keterbatasan pasokan nasional dan bukan karena melemahnya permintaan global.