Presiden Prabowo Subianto menantang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM Bahlil Lahadalia serta CEO Danantara Rosan Roeslani untuk memastikan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya atau PLTS berkapasitas 100 gigawatt (GW) selesai dalam dua tahun. Berdasarkan pantauan redaksi, tantangan besar ini disampaikan langsung oleh Kepala Negara di tengah upaya pemerintah memacu transisi energi bersih di tanah air.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Prabowo menyampaikan hal itu dalam peluncuran program mandatori Biodiesel 50% atau B50 di Rest Area KM 57, Karawang, Jawa Barat. "Kita akan membangun 100 gigawatt tenaga surya. Tahun ini PLN akan mulai dengan 17 gigawatt, 100 gigawatt dalam dua tahun," kata Prabowo.
Menurut pengamatan tim redaksi, Prabowo kemudian menanyakan langsung kesanggupan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, CEO Danantara Rosan Roeslani, hingga Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk memenuhi target tersebut. "Bisa Pak Rosan? Menko bisa? Menteri ESDM?" tanya Prabowo secara langsung.
Mendengar pertanyaan tersebut, ketiga pejabat negara itu pun dengan tegas menyatakan mampu memenuhi target yang dicanangkan oleh Presiden. "Siap, laksanakan," ujar Bahlil menyambut tantangan dari Kepala Negara.
Prabowo memperkirakan target pembangunan PLTS 100 GW dalam dua tahun akan memicu keraguan dari berbagai kalangan. Menurutnya, sejumlah pihak kemungkinan besar akan meremehkan target ini dan menilai rencana transisi energi tersebut sulit terwujud di lapangan.
‘Kita akan dienyek. Saya kasih tahu, siap-siap, kita akan dihujat. Pakar-pakar yang pintar-pintar itu akan bilang, ‘Mana mungkin?’’ ujar Prabowo menegaskan bahwa pemerintah harus tetap fokus bekerja tanpa terganggu oleh skeptisisme publik.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya mengatakan pemerintah akan membangun PLTS untuk memenuhi kebutuhan energi Koperasi Desa Merah Putih atau KDMP. Total kapasitas PLTS yang direncanakan untuk jangka panjang memang ditargetkan mencapai 100 GW secara nasional.
Bahlil menyampaikan pembangunan PLTS tersebut merupakan arahan langsung dari Prabowo dalam rangka mendorong pemanfaatan energi terbarukan di pedesaan. Pemerintah sendiri berencana membangun 80 ribu unit KDMP yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Pemerintah juga tengah menyusun Peraturan Presiden untuk mempercepat pengembangan PLTS di desa, dengan alokasi lahan 1 hingga 1,5 hektare per desa. Berdasarkan estimasi awal, dengan target 80 ribu desa, total lahan yang dibutuhkan akan mencapai sekitar 120 ribu hektare.
Investasi untuk pembangunan mega proyek PLTS tersebut diperkirakan menyentuh angka US$ 100 miliar. Di sisi lain, dari pantauan redaksi, Indonesia saat ini harus mengeluarkan dana sekitar US$ 25 miliar per tahun hanya untuk membiayai subsidi energi nasional.
Bahlil menyebut pembangunan PLTS dengan total kapasitas 100 GW akan dilakukan secara bertahap demi menjaga kestabilan pasokan jaringan listrik. Namun, dirinya belum bisa memastikan tanggal pasti kapan proyek skala masif tersebut akan mulai dieksekusi.
‘Lebih cepat lebih baik,’ kata Bahlil saat ditemui oleh awak media dalam rangkaian acara Indonesia Battery Summit baru-baru ini.