PT PLN (Persero) resmi melakukan langkah retrofit atau modifikasi pada sistem pembakaran di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya Unit 6 dan 7. Upaya ini dilakukan untuk menyesuaikan penggunaan kualitas batu bara di tengah pergeseran ketersediaan bahan bakar fosil tersebut di pasar domestik.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan data operasional perusahaan, PLTU Suralaya sebelumnya hanya dirancang untuk memproses pasokan batu bara berkalori tinggi dengan spesifikasi antara 4.600 hingga 4.800 GAR. Namun, dari pantauan redaksi saat ini, pembangkit listrik strategis tersebut kini telah berhasil dimodifikasi sehingga mampu mengolah batu bara berkalori rendah di kisaran 4.100 sampai 4.300 GAR.
Menurut Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, langkah modifikasi ini diambil korporasi karena kondisi pasokan batu bara nasional yang terus berubah. "Kami mengakui produksi batu bara kalori 4.500 GAR ke atas semakin menipis sementara kalori rendah makin besar. Oleh sebab itu kami melakukan penyesuaian (adjustment) terhadap pembangkit kami," kata Darmawan dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI.
Darmawan menyampaikan bahwa manajemen PLN saat ini juga sedang mengkaji rencana penerapan retrofit serupa di seluruh pembangkit listrik milik perusahaan. Pengamatan tim redaksi menunjukkan rencana ini akan mencakup seluruh unit pembangkit di bawah naungan PLN Indonesia Power maupun PLN Nusantara Power, dan ditargetkan masuk dalam rencana jangka panjang korporasi selama lima tahun mendatang.
Sebelum langkah penyesuaian ini berjalan masif, sistem kelistrikan nasional sempat menghadapi kendala serius. Berdasarkan pengamatan tim redaksi, gangguan pasokan sempat memicu kebijakan pemadaman bergilir di sejumlah wilayah akibat defisit pasokan energi primer.
Guna mengatasi kendala operasional tersebut, PLN mengonfirmasi telah mendapatkan alokasi tambahan pasokan batu bara kalori medium (4.500 GAR) untuk kebutuhan PLTU dengan total mencapai 16,8 juta ton hingga Desember 2026. Menurut Darmawan, tambahan pasokan tersebut dialokasikan khusus oleh Kementerian ESDM di luar skema domestic market obligation (DMO) yang sudah berjalan.
"Jumlahnya 1,8 juta ton untuk suplai Juli, dan 3 juta ton per bulan dari Agustus hingga Desember," ujar Darmawan yang juga mengklaim bahwa sejak tanggal 21 Juni 2026 sudah tidak ada lagi kebijakan pemadaman listrik bergilir kepada masyarakat.
Melalui tambahan pasokan batu bara dan modifikasi teknis ini, sistem kelistrikan di wilayah Jawa kini mendapatkan tambahan daya mampu pasok sebesar 5 gigawatt (GW) di atas beban reguler 35,9 GW. Langkah taktis ini dinilai berhasil memulihkan keandalan jaringan listrik secara signifikan setelah sempat terganggu akibat penurunan produksi batu bara berkalori tinggi di tingkat nasional.