Dunia kedokteran tanah air berduka menyusul penemuan jasad seorang dokter muda bernama Alex Cristo Loris (30). Korban ditemukan meninggal dunia secara misterius di area semak belukar yang berada tepat di samping pagar RSUD Tengku Rafian, Kelurahan Kampung Dalam, Kecamatan Siak, Kabupaten Siak, Provinsi Riau.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban merupakan dokter Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Residen Anestesi yang baru sekitar satu minggu menjalani penugasan di RSUD Tengku Rafian. Sebelum ditemukan meninggal pada Selasa (14/7/2026) sekitar pukul 11.30 WIB, korban dilaporkan menghilang sejak Senin sore. Dari pantauan redaksi, rekaman kamera pengawas (CCTV) memperlihatkan korban terakhir kali keluar dari lingkungan rumah sakit sekitar pukul 18.06 WIB.
Menurut keterangan kepolisian, penyelidikan mendalam tengah dilakukan guna mengungkap tabir kematian dokter asal Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku tersebut. Pihak kepolisian menegaskan belum dapat berspekulasi mengenai adanya dugaan pembunuhan maupun kecelakaan sebelum hasil resmi pemeriksaan medis keluar secara menyeluruh.
Berdasarkan penjelasan Kasubbid Penmas Bidang Humas Polda Riau AKBP Rudi Samosir, kepastian mengenai penyebab kematian korban baru akan terungkap setelah hasil autopsi resmi diterbitkan oleh tim ahli forensik. "Hasil autopsi diperkirakan 2 minggu lagi baru keluar. Nanti hasil baru tampak terang, apakah itu korban dibunuh, kecelakaan, atau sejenisnya," tutur Rudi Samosir saat memberikan keterangan resmi kepada media.
Berdasarkan hasil pemeriksaan visum sementara yang dilakukan di RS Bhayangkara Pekanbaru, tim dokter menemukan adanya luka berbentuk titik disertai pembengkakan pada punggung tangan kiri korban, serta memar pada bagian kepala akibat kekerasan tumpul. Selain itu, ditemukan pula beberapa luka pascakematian (post-mortem) pada leher, dada, perut, punggung, dan kedua lengan yang polanya diduga kuat akibat gigitan serangga setelah korban meninggal dunia.
Dari pengamatan tim redaksi, tim forensik gabungan juga mendapati adanya pelebaran pembuluh darah serta pembendungan (kongesti) pada organ-organ dalam korban. Kendati demikian, tim medis masih memerlukan waktu untuk melakukan pemeriksaan konfirmasi tambahan berupa histopatologi forensik dan toksikologi forensik guna memastikan penyebab utama kematian korban yang diperkirakan wafat 12 hingga 24 jam sebelum pemeriksaan.