KRE Publishing KRE Publishing
/home / berita / Sebelum Ada AC, Begini Cara Manusia...
BERITA

Sebelum Ada AC, Begini Cara Manusia Hadapi Cuaca Panas

Ilustrasi warga melakukan tradisi uchimizu menyiram air ke jalanan untuk meredam cuaca panas

Ilustrasi warga melakukan tradisi uchimizu menyiram air ke jalanan untuk meredam cuaca panas

Saat gelombang panas melanda berbagai negara, banyak orang langsung mengandalkan pendingin ruangan (AC) atau minuman dingin. Namun, penelitian ilmiah menunjukkan sejumlah cara tradisional yang telah digunakan selama ratusan tahun justru efektif membantu tubuh tetap sejuk.

Mulai dari menyiram jalanan dengan air, mengenakan jubah longgar berwarna gelap, minum teh tanpa gula, hingga tidur siang, semuanya memiliki dasar ilmiah dalam membantu tubuh menghadapi suhu ekstrem. Hal ini membuktikan bahwa adaptasi manusia terhadap iklim telah berjalan sangat lama sebelum teknologi modern lahir.

Berdasarkan pantauan redaksi dari laporan The New York Times, di Jepang terdapat tradisi "uchimizu", yakni menyiram trotoar atau jalanan di depan rumah dan toko menggunakan air saat musim panas. Awalnya, tradisi ini merupakan bagian dari upacara minum teh sebagai simbol penyambutan tamu, namun kebiasaan tersebut ternyata juga menurunkan suhu melalui proses pendinginan akibat penguapan (evaporative cooling).

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Water pada 2018 menemukan, praktik uchimizu mampu menurunkan suhu udara di dekat permukaan tanah hingga sekitar 10 derajat Fahrenheit atau sekitar 5,5 derajat Celsius. "Efeknya akan semakin terasa jika dilakukan bersama-sama oleh warga sekitar," menurut Direktur Japan Water Forum, Shigenori Asai.

Selain di Jepang, pengamatan tim redaksi menunjukkan masyarakat di wilayah India yang panas menggunakan tirai dari akar tanaman vetiver atau akar wangi sebelum AC tersedia. Tirai tersebut dibasahi lalu digantung di pintu atau jendela yang menghadap arah angin agar udara panas yang melewati tirai basah terserap melalui proses penguapan.

Teknologi sederhana ini bahkan kini menginspirasi sistem pendingin modern di sejumlah pusat data (data center) melalui metode "indirect evaporative cooling" yang lebih hemat energi dibanding pendingin udara konvensional. Selain mendinginkan ruangan, akar wangi juga mengeluarkan aroma yang harum.

Sekilas, mengenakan pakaian hitam saat cuaca panas terdengar tidak masuk akal, tetapi masyarakat di Timur Tengah dan Afrika Utara telah melakukannya selama berabad-abad. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature pada 1980 menemukan, jubah hitam yang longgar justru membantu tubuh tetap sejuk karena menciptakan sirkulasi alami yang menarik udara dingin dari bawah.

Makanan pedas ternyata juga dapat membantu tubuh terasa lebih dingin karena mengandung senyawa capsaicin yang merangsang reseptor panas di lidah. Sebagai respons, tubuh memperlebar pembuluh darah dan meningkatkan produksi keringat untuk mempercepat proses pendinginan melalui penguapan.

Sebaliknya, dari pantauan redaksi, minuman bersoda dingin yang tinggi gula justru kurang disarankan karena dapat mengurangi refleks alami tubuh untuk berkeringat. Di sejumlah negara Asia, masyarakat lebih memilih teh tanpa gula yang diseduh dari tanaman seperti jelai (barley) untuk membantu menjaga hidrasi.

Budaya tidur siang atau "siesta" yang dulu umum dilakukan di negara-negara Eropa Selatan seperti Yunani, Spanyol, dan Italia, juga memiliki manfaat besar saat cuaca sangat panas. Beraktivitas berat pada siang hari saat suhu sedang tinggi dapat meningkatkan risiko kelelahan akibat panas (heat exhaustion) sehingga istirahat menjadi solusi terbaik.

// TOPICS
#cuaca_panas #tips_kesehatan #gaya_hidup #tradisi_unik #sains #pendingin_alami
Tim Jurnalis & Analis Berita

Redaksi KRE Publishing adalah tim jurnalis profesional, analis, dan kreator konten yang berdedikasi menyajikan berita nasional dan internasional terlengkap. Dari berita politik breaking news hingga analisis ekonomi mendalam, kami hadir untuk masyarakat Indonesia yang cerdas dan haus akan informasi berkualitas.