Derasnya arus masuk produk baja impor berharga murah kian menekan keberlangsungan industri baja nasional. Berdasarkan pantauan redaksi, kondisi ini menyebabkan mayoritas pabrik baja dalam negeri belum mampu meningkatkan tingkat utilisasi produksinya secara optimal guna memenuhi kebutuhan pasar.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Direktur Eksekutif Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Herry Warganegara mengatakan bahwa tingkat utilisasi industri baja nasional saat ini masih tertahan di kisaran 50% hingga 60%. Menurut pengamatan tim redaksi, angka tersebut menunjukkan pemulihan yang sangat lambat meski tingkat pemanfaatan kapasitas bervariasi pada setiap segmen produk dan perusahaan.
"Utilisasi industri baja nasional saat ini masih berada di kisaran 50% - 60%, meski tingkat utilisasi berbeda-beda pada setiap segmen produk dan perusahaan," ujar Herry kepada media pada Jumat (3/7).
Menurut dia, industri baja nasional saat ini menghadapi berbagai tantangan berat, mulai dari membanjirnya produk impor dengan harga yang sangat kompetitif hingga melemahnya permintaan domestik. Tekanan ini terjadi seiring dengan laporan S&P Global yang mencatat Purchasing Managers" Index (PMI) manufaktur Indonesia turun ke level 46,9 pada Juni 2026.
"Bagi industri baja, kondisi tersebut sejalan dengan tantangan yang telah dihadapi dalam beberapa waktu terakhir, yaitu melemahnya permintaan domestik, tingginya tekanan dari produk impor dengan harga yang sangat kompetitif, serta meningkatnya ketidakpastian biaya produksi akibat pasokan energi dan bahan baku," kata Herry.
Ia menilai derasnya arus baja impor murah telah menggerus daya saing produsen nasional secara signifikan. Dari pantauan redaksi, ketidakmampuan bersaing ini membuat ruang bagi sektor hulu untuk berkembang kian menyempit. "Kondisi ini perlu menjadi perhatian karena industri baja merupakan industri hulu yang memiliki keterkaitan erat dengan sektor manufaktur lainnya," ujarnya.
Dari sisi permintaan, serapan pasar domestik juga terpantau belum pulih sepenuhnya. Meskipun proyek infrastruktur pemerintah dan sektor konstruksi masih menopang kebutuhan baja, produk impor masih mendominasi sebagian besar kebutuhan pasar dalam negeri. "Akibatnya, ruang bagi produsen dalam negeri untuk meningkatkan utilisasi kapasitas masih cukup terbatas," kata Herry.
Ia menjelaskan perlambatan aktivitas manufaktur ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor, mulai dari melemahnya permintaan dari sektor pengguna baja, tingginya volume impor, hingga biaya produksi yang masih tinggi, terutama pada sektor energi dan logistik.
Dalam kondisi yang penuh tekanan tersebut, perusahaan terpaksa menyesuaikan volume produksi dengan tingkat permintaan pasar yang ada. Di sisi lain, tim redaksi mengamati bahwa ketidakpastian ekonomi global turut memengaruhi keputusan investasi dan aktivitas manufaktur secara keseluruhan.
Untuk mendorong pemulihan industri, IISIA meminta pemerintah segera mengambil sejumlah langkah strategis. Salah satunya adalah memperkuat perlindungan pasar domestik melalui penegakan instrumen perdagangan terhadap praktik dumping dan lonjakan impor, serta memperketat pengawasan di wilayah perbatasan.
Selain itu, pemerintah diminta meningkatkan implementasi kebijakan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) secara konsisten pada pengadaan pemerintah maupun proyek badan usaha milik negara (BUMN).
IISIA juga mendorong pemerintah menjamin keberlanjutan pasokan gas industri melalui implementasi kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), menjaga kepastian pasokan energi, meningkatkan efisiensi logistik, serta mempercepat realisasi proyek infrastruktur dan program hilirisasi guna menciptakan permintaan baja domestik yang berkelanjutan.
Di saat yang sama, IISIA mengusulkan penguatan kampanye penggunaan baja nasional melalui gerakan "Bangun Indonesia, Gunakan Baja Nasional" pada proyek pemerintah maupun swasta.
"Kebijakan yang mampu memperkuat daya saing industri, menjaga pasar domestik, menjamin ketersediaan energi yang kompetitif, serta mendorong penggunaan produk dalam negeri akan membantu meningkatkan utilisasi industri dan mendukung kembalinya PMI manufaktur ke zona ekspansi," kata Herry.